Home » Headline, Induk Karangan

KOLABORASI PENCEGAHAN KONFLIK

31 March 2017 No Comment

Judul yang diangkat kali ini sebetulnya merupakan salah satu poin yang ditekankan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidatonya ketika menerima gelar doctor honoris causa dari Rajamangala University of Technology Isan, Thailand, belum lama berselang. Gelar itu sendiri diberikan kepada JK karena jasanya dalam menyelesaikan konflik di berbagai daerah.
Yang menarik dicatat di sini ialah bahwa JK dalam pidato pengukuhannya itu justru bicara soal ketimpangan ekonomi, bukannya langsung menukik ke soal pencegahan atau rsesolusi konflik dan semacamnya. Tampaknya, ini dilakukan JK untuk menggarisbawahi bahwa setiap konflik, termasuk yang terjadi di Indonesia sebelum maupun setelah reformasi, dipicu oleh persoalan ekonomi dan politik.  Seperti ditekankan oleh JK, kebanyakan konflik di Indonesia dipicu oleh dua hal, yaitu ketimpa­ngan ekonomi dan politik tadi. Ketimpangan ekonomi itu, menurut JK, tampak dalam realitas adanya jarak yang besar antara yang miskin dan yang kaya. Sementara ketimpangan politik, menurut JK, kerap menimbulkan konflik karena kebanyakan orang masih menganut paham yang kuat yang berkuasa. Ketika ada seseorang atau kelompok tertentu yang merasa superior atas pihak lain, mereka yang dipaksa tunduk umumnya akan melawan.
Sesungguhnya, tidak ada yang baru dari pidato JK tersebut. Akan tetapi, pidato tersebut menjadi menarik karena dikemukakan dalam rangka penerimaan penghargaan akademis dari salah satu lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Thailand. Thailand sendiri juga menghadapi ancaman konflik, kendati kompleksitasnya mungkin tidak setinggi Indonesia. Sebagian besar anggota ASEAN menghadapi persoalan ketimpangan, termasuk Thailand sendiri.
Pidato tersebut menarik dicatat juga karena JK menekankan pentingnya ASEAN dalam mengatasi persoalan ketimpangan sebagai langkah stra­tegis mencegah terjadinya konflik. Ketika ASEAN dipandang sebagai instrumen penting dalam rangka mencegah terjadinya konflik di negara-negara anggota, maka tentu ada kewajiban seluruh negara anggota untuk mempersiapkan langkah konkret yang dapat diaplikasikan di lapangan. Saat ini, konflik internal paling buruk yang pernah melanda ASEAN sedang berlangsung di Myanmar di mana korbannya adalah etnis Rohingya, etnis minoritas muslim di negara itu. Publik di Indonesia tidak melihat ada­nya komitmen konkret yang kuat dari seluruh negara anggota ASEAN untuk “memaksa” militer Myanmar menghentikan tindakan pemusnahan etnis (ethnic cleansing) di sana.
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sendiri tidak mengatur soal konflik. MEA tampaknya juga tidak dibuat untuk menjadi semacam mediator atau penyelesai konflik bilamana terjadi di negara-negara anggota. Kendati demikian, manakala konflik dilihat sebagai sebuah kejadian yang dipicu oleh unsur-unsur di luar konflik itu sendiri, maka pendekatan pemerataan dan keadilan ekonomi menjadi jawaban yang masuk akal. Dalam konteks ini, adalah menarik memberi makna lebih dalam terhadap saran JK yang mendorong dilakukannya optimalisasi peran MEA sebagai platform kolaborasi antara pengusaha dan pemerintah dalam rangka mencari solusi pemecahan ketimpangan ekonomi, guna mencegah terjadinya konflik.
Berangkat dari titik ini, sesungguhnya MEA dapat diskenariokan menjadi semacam forum di mana potensi ancaman konflik dapat dicarikan formula pencegahannya sejak awal. Apa yang disebut kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan menjadi keniscayaan di sini. Maka, kerangka aplikasi terbaiknya perlu dirumusken bersama. Pada tingkat awal, apa yang kini dikenal sebagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) —untuk menyebut satu formula yang menjempabatani dan menguatkan relasi antara elemen perusahaan dengan unsur masyarakat— tampaknya memerlukan sentuhan dengan visi dan karakter pencegahan konflik yang lebih kuat.
[ *9 ]
Jakarta, 27 Maret 2017

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.