Home » Ekonomi & Bisnis

POTONG RANTAI PEMASARAN, GULA RAFINASI MASUK PASAR LELANG KOMODITAS

31 March 2017 No Comment

Jakarta, 27 Maret 2017 (Business News)

Kementerian Perdagangan menetapkan gula kristal rafinasi (GKR) yang diproses dari gula mentah impor hanya diperdagangkan melalui mekanisme pasar lelang komoditas. Hal ini dilakukan untuk memotong mata rantai pemasaran dan distribusi yang panjang. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan GKR melalui Pasar Lelang Komoditas.
“Permendag ini diterbitkan untuk menjamin dan menjaga ketersediaan, penyebaran, dan stabilitas harga gula nasional, serta memberi kesempatan usaha yang sama bagi industri besar dan kecil dalam memperoleh gula kristal rafinasi (GKR). Dengan mekanisme pasar lelang diharapkan harga yang diterima di tingkat industri makanan dan minuman akan lebih terjangkau,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Senin (27/3).
Dengan Permendag tersebut, produsen GKR yang mengimpor gula kristal mentah wajib menjual hasilnya melalui pasar lelang komoditas. Penyelenggara pasar lelang komoditas GKR ditetapkan langsung oleh Menteri Perdagangan. Namun Permendag ini tidak berlaku untuk industri GKR yang hasil produksinya untuk ekspor.
“Industri pengguna gula kristal mentah dan GKR dengan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) yang hasil produksinya ditujukan ekspor, dikecualikan dari Permendag ini,” lanjut dia. Dalam pelaksanaan lelang Menteri Perdagangan akan menetapkan harga batas bawah dan harga batas atas penjualan GKR secara berkala. Peraturan ini juga memberikan kemudahan pengawasan gula yang akurat dan akuntabel karena perdagangan GKR dilengkapi electronic barcode (e-Barcode) dan dilakukan satu pintu melalui pasar lelang online.
“Sistem e-Barcode dapat membantu pengawasan dalam mencegah perembesan atau penimbunan GKR. Kode unik yang terkandung dalam e-Barcode mengandung informasi dan histori perdagangan GKR yang lengkap dan akurat, mulai dari proses importasi bahan baku, produksi, penjualan, pembelian, serta distribusi gula. Data dan informasi juga dapat diakses secara realtime dan online,” ujar Mendag Enggar.
Saat Permendag No. 16 Tahun 2017 berlaku, maka ketentuan mengenai Surat Persetujuan Perdagangan Antarpulau Gula Kristal Rafinasi (SPPA GKR) dalam Permendag No. 74/M-DAG/PER/9/2015 tentang Perdagangan Antarpulau GKR dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) membuktikan komitmennya menjaga stabilitas harga bahan pokok. Melalui penandatanganan nota kesepahaman antara para produsen gula rafinasi dengan para distributornya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyaksikan komitmen di antara mereka, menjaga agar harga gula putih yang diproduksi oleh para produsen gula rafinasi dijual Rp12.500,-/kg.
“Hari ini kami menyaksikan komitmen produsen gula rafinasi dapat memproduksi gula putih konsumsi dengan harga jual Rp12.500,-/kg yang ditujukan untuk mengisi kekurangan pasokan di dalam negeri, papar Enggar seusai menyaksikan penandatanganan MOU awal tahun ini. Adapun penentuan harga gula pada level Rp12.500,-/kg ini lebih rendah dari harga yang sebelumnya ditetapkan pemerintah.
Karena itu fasilitasi kemitraan antara produsen dan distributor gula ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan gula dan stabilitas harga gula, sesuai perintah Presiden Joko Widodo untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga yang terjangkau. Menurut Mendag amanat ini dijalankan melalui skema memperpendek jalur distribusi.
“Untuk mencapai target tersebut, beberapa hal yang telah dilakukan, antara lain dengan memperpendek jalur distribusi dari produsen ke konsumen, terutama dengan meningkatkan peran serta BUMN/BUMD dan sektor swasta dalam pendistribusian gula putih untuk konsumsi,” imbuhnya. Hal ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.
Mendag memastikan unsur pemerintah akan menjalankan amanat ini, dan upayanya dilakukan melalui berbagai sinergi termasuk dengan pihak swasta. Tujuannya agar memperoleh keseimbangan, sehingga di satu sisi petani bisa tetap sejahtera, pedagang juga dapat memperoleh keuntungan, dan konsumen memperoleh harga gula secara lebih terjangkau.”Jika memang di dalam negeri produknya belum tersedia, boleh saja dilakukan impor, tetapi harus ada road map (peta jalan) ke depan seperti apa,” jelasnya.         (Mi)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.